Jumat, 10 Juli 2009

Jagad kutu rambut..




Mmmm...Hari ini..Sampai pada 100% tali temali simpul menyimpul. Diujung rambut kutu meniup terompet genderang perang. Telur- telur yang hampir menetas bertaburan karena perlawanan, tak urung banjir pun melanda ekosistem para kutu. Dalam habitat kutu- kutu, kepalaku menguap dan segenap amarah menguasai diriku yang sedang duduk termenung di lobi sebuah hotel bintang lima. Dan batin berteriak "Si guguk lama bet!!".

Kami dipertemukan oleh persamaan nasib, dibangun rasa keingin tahuan yang besar dan ditindih oleh prinsip ekonomi yang mendasari kepentingan pribadi setiap hidup. Berduyung- duyung seakan bersatu akan lebih baik, padahal hasilnya tetap aja setengah. Kusadari jarang sekali atau bahkan tidak ada orang yang benar- benar tulus termasuk diriku. Semua punya maksud dibelakang dan semua orang memiliki egoisme dengan intensitas yang beragam tergantung seberapa keren diri.

Kupandang khatulistiwa biru seutuhnya, merasa kerdil membopong dosa- dosa..Ternyata masih takut akan mati konyol, masih rindu dengan konyol serta apalah.."Kiamat sudah dekat" Mari berlomba bersiap diri masuk neraka, merantau berjalan ditepian pantai mencari undur- undur. Membakar ikan, gosong, lapar, kuat, keledai, tersandung, jatuh menggelinding.

Minggu ini...Tak biasanya menjadi membeku, tak seharusnya beku dan tak semestinya aku berada dalam situasi ramai seperti ini. "Seperti apa?" kau pikirlah sendiri.. Dan sampailah aku dalam suasana pasar malam, bercahayakan 4 lampu neon dengan atmosphere lansekap rumah- rumah sederhana serta beberapa gelap. Terlihat disana aku bermain kartu dan sisanya bermain bersama ikan lele besar- besar. Memendam dendam tak bermutu yang tercipta dari mulut- mulut keras, berhadiahkan berkarung tawa gurau cacian.

Ada seekor kerbau sedang makan nasi, para pemabuk, pelawak, pembual dan beberapa orang yang tidak aku kenal. Sebutlah mereka... Terlahir dari hobi, tercipta karena keakraban berwujudkan komunitas suka- suka. Pak guru dan bu guru pacaran, si engkong menyeringai, seorang tak waras mendengarkan radio bersama sarung kotak- kotak dan gigi ompongnya tersisa satu ujung kuning tak pernah mandi. "Malam ini" beliau mendengarkan wayang dengan dalang siapa dan bercerita dengan bahasa jawa "apa" aku tak bisa menikmati, tak mengerti, ora mudeng.Serasa seperti montase dari beragam pribadi membentuk hati, seperti serigala bermasking domba semua bersatu dalam akuarium bulat. Seperti konglomerat tak berkaitan sama sekali..Lalu aku memasuki sanitarium dan "sembuh"..

Bulan ini sebagian besar lagu mainstream yang terdengar semakin tidak bermutu, "lagu cinta" lagu cinta melulu, beraransemenkan tempolong dan kaleng bir. Lirik- lirik lugas kunci- kunci dasar dan penampilan menjual asal keren njijiki. "muak pengen boker" hingga superstar saja terbawa arus dan balita bernyanyi tak punya pilihan lain. Jika ada yang bertanya "Dimana bintang kecil, balonku dan pesawat tempur?" ditelan kangen. Kupetik buah dawai lalu bernyanyi salah satunya. Kupeluk bodinya yang semok kuraba- raba lalu berteriak "Tapir!!". Kunyanyikan lagu lain dan terusak oleh gerakan pembunuhan kreativitas dan vandalisme tingkat rumah tangga.

Tahun ini.. Politik berevolusi semakin licik terselubung bersama rekayasa resep jitu.. Memonopoli dengan alam kebijakan2 struktural sistematis. Tapi biarlah...ya biarkan saja, "trus meh ngopo?" saya tidak mencontreng beliau.."siapa?"ndak tau.."lalu?" biarlah berlalu..Golok- golok sakti yang dibawa pendekar2 sakti berwatak jahat tidak pernah patah tapi pasti suatu saat akan patah. Pesawat tempur yang tak pernah berhenti menggempur tak pernah tertembak namun suatu saat akan jatuh sendiri. Tank baja,kokoh kekar anti pelor suatu saat akan meleleh oleh panasnya kobaran aurora tubuh, atau akan mencair bersama peluru biru ciptaan angin ribut. Ha-ha-ha, aku berguman sendiri di gorong- gorong "kapan aku mati?" dan tentu saja bukan hak-ku untuk sekedar tahu. "Bukan!", kaum marginal takkan pernah ada jika tidak ada orang yang memarginalkan, kaum marginal hanya realisasi dari kutu- kutu busuk dan bayangan imajiner dari kita yang menganggap mereka ada. Panca dasar janji masih janji belaka, bualan- bualan-ku semakin tidak bermutu seperti kapten kehilangan kendali dari kapal selam butut berkarat.

Gurau tak pernah lelah dan persepsi tergantung dalamnya isi kepala, semakin dalam semakin rumit. Condora tak pernah kelihatan batang pensilnya.. "ternyata aku rindu", sapa, tawa, keluh peluh dipasir terpendam oleh nafsu. Kupikir bukan nafsu tapi dedikasi, kurasa bukan ego namun hati dengan sedikit egosentris prinsip itu- itu lagi. "Aku kalah..."Tidak, aku seperti selalu kalah...

Kutu- kutu mati membusuk dimakan cacing..
"AnginRibut"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar