Sabtu, 07 November 2009

Ruang- ruang Bawah Tanah.

Sesorot mata...menatap sayu mengepul daya sesaat setelah lelah pergi menjauh. Lama, sejauh beberapa menit teriakan katak dan kodok. Menipis terkikis ruang dan liang2 lain, gempa menghempaskan udara dan hiruk pikuk menyembunyikannya dalam sela- sela busa cuci piring. Empedu PECAH! Tergumun- gumun berubah seperti dulu kupikir rasakan.

Malaikat bingung dan Tuhan tertipu..Air berhembus, tanah mengalir, angin berkobar hingga nasib api haru melongsor. Kobaran terdiam sejenak, membendung tanah- tanah liat, menyelimuti hembusan air diatas api- api diam liar merangsang.

Ranah nanah dalam keanekaragaman warna para buta, lengkingan nada suara- suara para tuli, susunan gema kata dari mulut bisu, otak kotor sigila, tinju tendang buntung seling nafsu para kasim. Meraba sebait huruf timbul, mendengarkan gesekan yang timbul seraya membawanya dikepala melalui tangan yang kugarukkan disela rumput hitam. Meringis...

Hahaha...Ekspresi itu menua beruban, kerut2 disekitar mulut, tongkat ular ditangan kanan, merunduk bungkuk, melambat tepat, segaris senyum yang tepat mengarah kearah nanah- nanah keberagaman. Nada minor dalam warna-warni ironi...Masih minor..Jangan melulu meluluh... Sudah sore..

Nafsu hati ingin menepi, maksud raga ingin mengayuh...Menyatu melayu...hingga lorong2 berujung punah, sampai rambut dan kuku berhenti tumbuh, atau setidaknya hidung dan kuping tidak lagi bersemi.

Untukmu...
"Benu Dharmo"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar